Bali Dental Journal https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj <div id="journalDescription"> <p>e-ISSN : 2549-0109 <br>print-ISSN : 2549-0095</p> <p>Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana berdiri sesuai dengan SK Dikti No 199/E/O/2013 tanggal 21 mei 2013 yang ditetapkan di Jakarta.</p> </div> en-US dewa_sukrama@yahoo.co.id (Dr.dr.I Dewa Made Sukrama,M.Si,Sp.MK(K)) yuichi.chan1012@gmail.com (drg. Luh Wayan Ayu Rahaswanti, Sp.KGA) Fri, 10 Apr 2026 00:00:00 +0700 OJS 3.1.2.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Efektivitas Gel Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L.) 30% terhadap Ekspresi TNF-α dalam Penyembuhan Ulkus Traumatikus Tikus Wistar (Rattus norvegicus) dengan Diabetes Melitus Tipe II https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/607 <p><strong><em>Background</em></strong><em>: Traumatic ulcers in patients with type II diabetes mellitus experience delayed healing due to chronic inflammation and dysregulated expression of TNF-α. Soursop leaves (Annona muricata L.) are known to contain flavonoids and tannins with anti-inflammatory and antidiabetic properties, and are potentially able to modulate TNF-α expression physiologically. </em></p> <p><em><strong>Methods</strong>: Wistar rats were induced with alloxan at a dose of 150 mg/kgBW. The rats were divided into positive control and treatment groups. Traumatic ulcers were created on the labial mucosa using a heated cement stopper with a 3 mm diameter. Gel was applied topically every morning and evening. Rats were euthanized on days 1, 3, and 7. TNF- α expression was observed under 400× magnification using an Olympus Optilab microscope. <strong>Results</strong>: TNF-α expression in the treatment group receiving 30% soursop leaf extract gel showed a significant increase on day 3 as part of the initial inflammatory phase, followed by a decrease on day 7. Statistical analysis using one-way ANOVA showed a significant difference between groups (p &lt; 0.05). </em></p> <p><em><strong>Conclusion</strong>: The 30% soursop leaf extract gel is effective </em><em>in physiologically modulating TNF-α expression in traumatic ulcers in Wistar rats with type II diabetes mellitus.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Latar Belakang : </strong>Ulkus traumatikus pada penderita diabetes melitus tipe II mengalami hambatan penyembuhan karena peradangan kronis dan disregulasi ekspresi TNF-α. Daun sirsak (Annona muricata L.) diketahui mengandung flavonoid dan tanin yang bersifat antiinfflamasi dan antidiabetik, serta berpotensi memodulasi ekspresi TNF-α secara fisiologis.</p> <p><strong>Metode : </strong>Tikus wistar diinduksi dengan aloksan 150mg/kgBB. Tikus dikelompokkan menjadi kelompok kontrol positif dan perlakuan. Tikus kemudian dibuat ulser pada mukosa labial dengan menggunakan <em>cement stopper </em>yang dipanaskan dengan diameter 3 mm. Aplikasi gel dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari. Kemudian tikus di euthanasia pada hari ke-1, 3, dan 7. Pengamatan dilakukan untuk melihat ekspresi TNF-α dengan perbesaran 400x pada mikroskop Olympus optilab<em>. </em></p> <p><strong>Hasil penelitian : </strong>Ekspresi TNF- α pada kelompok perlakuan gel ekstrak daun sirsak 30% mengalami peningkatan signifikan pada hari ke-3 sebagai bagian dari fase inflamasi awal, kemudian menurun pada hari ke-7. Uji statistik menggunakan <em>one-way </em>ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok (p &lt; 0,05).</p> <p><strong>Kesimpulan : </strong>Gel ekstrak daun sirsak 30% efektif dalam memodulasi ekspresi TNF-α secara fisiologis pada ulkus traumatikus pada tikus wistar dengan kondisi diabetes melitus tipe II.</p> Gusti Ayu Putu Siska Sri Mahartini, Ida Bagus Pramana Putra Manuaba, I Gusti Agung Dyah Ambarawati, Ni Luh Desy Ayu Susilahati, I Gusti Agung Sri Pradnyani Copyright (c) 2026 Bali Dental Journal https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/607 Fri, 10 Apr 2026 00:00:00 +0700 Perbandingan Pengaruh Promosi Kesehatan Menggunakan Media Augmented Reality dibanding Video Animasi Terhadap Perilaku Kesehatan Gigi dan Mulut Siswa SD Negeri 1 Culik https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/573 <p><strong>Background:</strong> Oral health issues remain a significant concern among elementary school-aged children. Innovative health promotion media such as Augmented Reality (AR) and animated videos offer potential to improve children’s oral health behaviors.</p> <p><strong>Objective:</strong> To compare the effectiveness of AR and animated videos in improving oral health behaviors among students at SD Negeri 1 Culik.</p> <p><strong>Methods:</strong> This quasi-experimental study involved two intervention groups: AR and animated video. Data were collected using pretest and post-test observation sheets based on the Guttman scale 116 students selected through cluster sampling. Data analysis was conducted using the Wilcoxon Signed Rank Test and Mann-Whitney U Test via SPSS version 29.</p> <p><strong>Results:</strong> There was a significant improvement in oral health behavior in both the AR group (p=0.000<sup>*</sup>) and animated video group (p=0.000<sup>*</sup>). The Mann-Whitney U test revealed a significant difference between the two groups (p=0.0041<sup>*</sup>), with AR media demonstrating higher effectiveness than animated videos.</p> <p><strong>Conclusion:</strong> AR is more effective than animated videos in enhancing oral health behavior among elementary school students. The use of interactive technologies like AR is recommended as an innovative educational approach in children's oral health promotion.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Permasalahan kesehatan gigi dan mulut masih menjadi isu signifikan pada anak usia sekolah dasar. Inovasi media promosi kesehatan, seperti <em>Augmented Reality</em> (AR) dan video animasi, berpotensi meningkatkan perilaku kesehatan oral anak.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Mengetahui perbandingan efektivitas media AR dan video animasi terhadap peningkatan perilaku kesehatan gigi dan mulut siswa SD Negeri 1 Culik.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan dua kelompok intervensi, yaitu kelompok AR dan kelompok video animasi. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi <em>pretest</em> dan <em>post-test</em> dengan skala guttman terhadap 116 siswa yang dipilih melalui teknik cluster sampling. Analisis data dilakukan dengan uji <em>Wilcoxon Signed Rank</em> dan <em>Mann-Whitney U </em>menggunakan SPSS versi 29.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Terdapat peningkatan signifikan pada perilaku kesehatan gigi dan mulut setelah intervensi, baik pada kelompok AR (p=0,000<sup>*</sup>) maupun video animasi (p=0,000<sup>*</sup>). Hasil <em>uji Mann-Whitney</em> menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (p=0,0041<sup>*</sup>), dengan media AR menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dibanding video animasi.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Media AR lebih efektif dibandingkan video animasi dalam meningkatkan perilaku kesehatan gigi dan mulut siswa sekolah dasar. Penggunaan teknologi interaktif seperti AR disarankan sebagai pendekatan edukatif inovatif dalam promosi kesehatan gigi anak.</p> I Ketut Krisnanda Cahyadi Cahyadi, Putri Rejeki, Desak Ayu Dhyana Nitha Dewi, Luh Wayan Ayu Rahaswanti Copyright (c) 2026 Bali Dental Journal https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/573 Tue, 14 Apr 2026 00:00:00 +0700 Keterkaitan Penggunaan Pasta Gigi Herbal Dengan Kesehatan Jaringan Periodontal Pada Anak https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/799 <p><strong><em>Background:</em></strong><em> Periodontal tissue health in children is an essential component of maintaining overall oral health. Uncontrolled dental plaque accumulation can lead to gingivitis and may progress to more severe periodontal diseases. One preventive approach is the use of herbal toothpaste containing natural ingredients such as Salvadora persica (miswak), Piper betle (betel leaf), Eugenia caryophyllus (clove), green tea, and Aloe vera, which possess antibacterial, anti-inflammatory, antioxidant, and natural antimicrobial properties. This study aimed to evaluate the association between the use of herbal toothpaste and periodontal tissue health in children based on published research findings. </em></p> <p><em><strong>Methods:</strong> This study employed a descriptive literature review. Articles were identified through searches of Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, and SINTA databases using keywords related to herbal toothpaste, periodontal tissue health, dental plaque, gingivitis, and children. The inclusion criteria comprised national and international journal articles published between 2021 and 2025, available in full text, and investigating the effectiveness of herbal toothpaste on periodontal health in children. </em></p> <p><em><strong>Results</strong>: Several studies demonstrated that herbal toothpaste effectively reduced plaque index, decreased subgingival bacterial colony counts, alleviated gingival inflammation, and helped prevent gingivitis. Herbal ingredients such as Salvadora persica, Piper betle, Eugenia caryophyllus, green tea, and Aloe vera were shown to play significant roles in maintaining periodontal tissue health. Furthermore, some studies reported that herbal toothpaste exhibited comparable or even superior effectiveness compared with non-herbal toothpaste. </em></p> <p><em><strong>Conclusion:</strong> The use of herbal toothpaste is positively associated with periodontal tissue health in children and may be recommended as a preventive measure for maintaining oral health from an early age.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Kesehatan jaringan periodontal pada anak merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh. Akumulasi plak yang tidak terkontrol dapat menyebabkan gingivitis dan berkembang menjadi penyakit periodontal yang lebih serius. Salah satu upaya preventif yang dapat dilakukan adalah penggunaan pasta gigi herbal yang mengandung bahan alami seperti siwak (<em>Salvadora persica</em>), daun sirih (<em>Piper betle</em>), cengkeh (<em>Eugenia caryophyllus</em>), green tea, dan <em>Aloe vera</em> yang memiliki sifat antibakteri, antiinflamasi, antioksidan, serta antimikroba alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan penggunaan pasta gigi herbal dengan kesehatan jaringan periodontal pada anak berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan.</p> <p><strong>Metode: </strong>Penelitian yang digunakan adalah literature review dengan analisis deskriptif. Penelusuran artikel dilakukan melalui database <em>Google Scholar, PubMed, ScienceDirect</em>, dan SINTA menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan pasta gigi herbal, kesehatan jaringan periodontal, plak gigi, gingivitis, dan anak. Kriteria inklusi meliputi jurnal nasional dan internasional yang diterbitkan dalam rentang tahun 2021–2025, tersedia dalam bentuk full text, dan membahas efektivitas pasta gigi herbal terhadap kesehatan periodontal pada anak.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasta gigi herbal efektif dalam menurunkan indeks plak, mengurangi jumlah koloni bakteri subgingiva, menurunkan inflamasi gingiva, serta membantu mencegah gingivitis. Bahan herbal seperti siwak, daun sirih, cengkeh, green tea, dan Aloe vera terbukti memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan jaringan periodontal. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pasta gigi herbal memiliki efektivitas yang setara bahkan lebih baik dibandingkan pasta gigi non-herbal.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Penggunaan pasta gigi herbal memiliki keterkaitan positif dengan kesehatan jaringan periodontal pada anak dan dapat direkomendasikan sebagai salah satu upaya preventif dalam menjaga kesehatan ronggan mulut dini.</p> Ade Ratu Mas Saraswati, I Gede Krisna Merta Yoga, Dik Megaputri Handayani, I Wayan Gita Pratama Copyright (c) 2026 Bali Dental Journal https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/799 Thu, 16 Apr 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh pH Larutan Asam terhadap Daya Tarik Magnetic Attachment 900 GF https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/754 <p><strong><em>Background</em></strong><em>: Magnets are alloys that can attract certain metals such as iron, cobalt, nickel, and other alloys. Magnetic attachments used as denture retention for over 80 years. They reduce horizontal stress transfer to teeth and bone during denture insertion and removal. However, there is evidence that the magnetic force can be reduced under extreme conditions such as; high temperature, external environment, or changes in the chemical composition of the magnet due to corrosion and physical deterioration of the magnet. The purpose of this study was to determine the effect of pH of acidic solution on the attraction of magnetic attachment 900 GF. </em></p> <p><em><strong>Methods</strong>: This study is a laboratory experimental with randomised pre-post test design. Measurements in this study were taken before and after each sample was given an intervention. The number of samples was 3 consisting of dental magnetic attachment type neodymium magnet with Magteeth MT 900 brand. The data obtained were analysed univariately using the paired t-test method. </em></p> <p><em><strong>Results</strong>: Significant results were obtained in the paired t-test analysis for all samples tested with significance values sequentially 0.015; &lt;0.001; 0.009 (p &lt; 0.05). </em></p> <p><em><strong>Conclusion</strong>: The pH of the acidic solution has an influence, decreasing the attractiveness of the magnetic attachment 900 GF</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Latar Belakang: </strong>Magnet merupakan paduan yang dapat menarik logam tertentu seperti besi, kobalt, nikel, dan paduan lainnya. <em>Magnetic attachments </em>digunakan sebegai retensi gigi palsu selama lebih dari 80 tahun. Alat tersebut mengurangi transfer stres horizontal ke gigi dan tulang pada saat pemasangan dan pelepasan gigi palsu. Namun didapatkan bukti bahwa gaya magnet dapat berkurang jika dalam kondisi ekstrim seperti; suhu tinggi, lingkungan eksternal, atau perubahan komposisi kimia magnet akibat korosi dan kerusakan fisik magnetnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pH larutan asam terhadap daya tarik <em>magnetic attachment </em>900 GF<em>. </em></p> <p><strong>Metode: </strong>Penelitian ini merupakan eksperimental laboratoris dengan desain <em>randomized pre-post test</em>. Pengukuran pada penelitian ini dilakukan sebelum dan setelah masing-masing sampel diberi intervensi. Jumlah sampel adalah 3 yang terdiri dari <em>dental magnetic attachment </em>bertipe neodimium magnet dengan merek <em>Magteeth </em>MT 900. Data yang didapat dianalisis secara <em>univariat </em>menggunakan metode <em>paired t-test</em>.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Didapatkan hasil yang signifikan pada analisis uji <em>paired t-test </em>untuk semua sampel yang diuji dengan nilai signifikansi secara berurutan 0,015; &lt;0,001; 0,009 (p &lt;0,05).</p> <p><strong>Simpulan: </strong>pH larutan asam memiliki pengaruh, menurunkan daya tarik <em>magnetic attachment </em>900 GF</p> Muhammad Iqna Ghibranyxavy, Sari Kusumadewi, Putu Lestari Sudirman, Eka Pramudita Ramadhany Copyright (c) 2026 Bali Dental Journal https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/754 Wed, 15 Jul 2026 00:00:00 +0700 Uji Daya Hambat Ekstrak Biji Pepaya California (Carica Papaya L. Var. Callina) Terhadap Bakteri Streptococcus Mutans (in vitro) https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/658 <p><strong><em>Background: </em></strong><em>Streptococcus mutans is one of the common normal flora found in the oral cavity. Chlorhexidine (CHX) is widely recognized as the gold standard against Streptococcus mutans. However, CHX-based mouthwashes may cause several side effects, including xerostomia, hypogeusia, tongue discoloration, and tooth staining. Herbal ingredients such as papaya seeds contain various bioactive compounds that exhibit biological activity against various disease-causing agents. Previous studies have shown that Carica papaya L. is rich in phytochemicals, including flavonoids, saponins, and steroids. This study aimed to evaluate the antibacterial activity of California papaya seed extract (Carica papaya L. var. Callina) against Streptococcus mutans based on inhibition zone diameter in vitro.</em></p> <p><em><strong>Method: </strong>This study employed a post-test only group design, involving 24 samples that were allocated into treatment and control groups. The antibacterial activity was assessed using the disk diffusion method on Blood Agar, selected for its suitability in supporting the optimal growth of Streptococcus mutans ATCC 35668. Papaya seed extract was tested at concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100%. As controls, 0.2% chlorhexidine digluconate was used as the positive control, while sterile distilled water served as the negative control. The bacterial suspension was evenly spread on the agar surface, and the inhibition zones were measured following 24–48 hours of incubation at 37°C. </em></p> <p><em><strong>Results: </strong>No inhibition zones were observed at 25% and 50% concentrations (diameter = 0 mm). Inhibition zones began to appear at 75% and increased significantly at 100%. Statistical analysis showed a significant difference between groups (p &lt; 0.05).</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Latar Belakang:</strong> <em>Streptococcus mutans</em> merupakan bakteri utama penyebab karies gigi. <em>Chlorhexidine</em> sebagai standar emas memiliki efek samping, sehingga dibutuhkan alternatif herbal. Biji pepaya <em>(Carica Papaya L. var. Callina)</em> memiliki potensi antibakteri.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorium menggunakan metode difusi cakram untuk menguji daya hambat ekstrak biji pepaya terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Lima kelompok uji digunakan yaitu kontrol negatif (aquadest), kontrol positif (<em>chlorhexidine</em> 0,2%), dan ekstrak biji pepaya dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%. Zona hambat diamati setelah 24 jam inkubasi.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Terdapat zona hambat pada semua konsentrasi ekstrak biji pepaya. Diameter zona hambat meningkat seiring konsentrasi ekstrak. <em>Chlorhexidine</em> menunjukkan daya hambat terbesar. Terdapat perbedaan signifikan antar kelompok (p&lt;0.05).</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Ekstrak biji pepaya California memiliki aktivitas antibakteri terhadap <em>Streptococcus mutans</em> dan berpotensi sebagai alternatif alami pengganti <em>chlorhexidine.</em><br><br></p> <p>&nbsp;</p> Fadila Roa Agustin, Putu Lestari Sudirman, Ni Made Ista Prestiyanti, Putu Mariati Kaman Dewi Copyright (c) 2026 Bali Dental Journal https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/658 Wed, 22 Apr 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Penyemprotan Larutan Ekstrak Daun Pepaya (Carica Papaya L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus Mutans pada Hasil Cetakan Alginat https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/467 <p><strong>Introduction: </strong>Dental impression is a procedure to gain a picture of tissues in the oral cavity. Alginate is a hydrophilic impression material that is able to absorb the surrounding liquid. These properties make alginate easily contaminated by bacteria during the impression procedure. One of the bacteria that can move from the patient's oral cavity to the impression material is Streptococcus mutans. However, sodium hypochlorite that commonly used has an unpleasant odor and can cause irritation. One of the natural ingredients that contain antibacterial compound is Papaya leaves, thus it can be a natural antibacterial source.</p> <p><strong>Method: </strong>This research used 27 alginates as samples with 10 mm in diameter and 15 mm in height, which were divided into negative control group (sprayed with distilled water), positive control group (sprayed with 0.5% sodium hypochlorite), and treatment group (sprayed with 80% of papaya leaves extractution). Samples were contaminated with Streptococcus mutans bacteria for 48 hours, then sprayed according to the group. After dilution, samples were spread on blood agar media. Bacterial growth was observed on blood agar after being incubated for 24-48 hours.</p> <p><strong>Result: </strong>The mean number of bacterial colonies in treatment group was lower than in negative control group, but not lower than in positive control group. One-Way ANOVA test showed that the number of bacterial colonies in each group had a significant difference (p&lt;0.05).</p> <p><strong>Conclusion: </strong>Papaya leaves (Carica papaya L.) extract solution has an effect in inhibiting the growth of Streptococcus mutans bacteria on alginate impressions.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Latar Belakang: </strong>Pencetakan rongga mulut merupakan tindakan yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran jaringan yang ada di dalam rongga mulut. Alginat merupakan bahan cetak yang bersifat hidrofilik sehingga mampu menyerap cairan yang ada di sekitarnya. Sifat tersebut membuat alginat mudah terkontaminasi bakteri selama proses pencetakan. Salah satu bakteri yang dapat berpindah dari rongga mulut pasien ke cetakan adalah <em>Streptococcus mutans. </em>Sodium hipoklorit merupakan bahan yang umum digunakan untuk mencegah perpindahan bakteri, akan tetapi memiliki bau kurang nyaman serta dapat menyebabkan iritasi jika terkena kulit. Salah satu bahan alami yang bisa digunakan adalah daun pepaya. Daun pepaya memiliki kandungan senyawa antibakteri seperti <em>tocophenol</em>, alkaloid karpain, dan flavonoid sehingga dapat digunakan sebagai antibakteri alami.</p> <p><strong>Metode: </strong>Sampel penelitian terdiri atas 27 buah alginat berdiameter 10 mm dan tinggi 15 mm yang dibagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (disemprot akuades), kelompok kontrol positif (disemprot sodium hipoklorit 0,5%), dan kelompok perlakuan (disemprot larutan ekstrak daun pepaya 80%). Sampel dikontaminasikan dengan bakteri <em>Streptococcus mutans </em>selama 48 jam, selanjutnya disemprot sesuai dengan kelompok, kemudian dilakukan dilusi untuk selanjutnya disebar pada media <em>blood agar. </em>Pertumbuhan bakteri diamati pada media <em>blood agar </em>setelah diinkubasi selama 24-48 jam.</p> <p><strong>Hasil: </strong>Nilai <em>mean </em>jumlah koloni bakteri pada kelompok perlakuan lebih rendah daripada kelompok kontrol negatif, namun tidak lebih rendah daripada kelompok kontrol positif. Uji <em>One-Way </em>ANOVA menunjukkan jumlah koloni bakteri pada masing-masing kelompok memiliki perbedaan yang signifikan (p&lt;0.05).</p> <p><strong>Simpulan: </strong>Larutan ekstrak daun pepaya (<em>Carica papaya </em>L.) memiliki pengaruh dalam menghambat pertumbuhan bakteri <em>Streptococcus mutans </em>pada hasil cetakan alginat.</p> I Made Jaya Wikantyasa, Desak Nyoman Ari Susanti, Gede Indra Sucipta Maker, I Gusti Ayu Kade Ira Purbasari Copyright (c) 2026 Bali Dental Journal https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/467 Thu, 30 Apr 2026 00:00:00 +0700 Gambaran Tingkat Pengetahuan Orang Tua terhadap Kebiasaan Bernafas Melalui Mulut sebagai Etiologi Maloklusi pada Anak Sekolah Dasar di Kuta Selatan https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/588 <p><strong><em>Background</em></strong><strong><em>: </em></strong><em>Malocclusion </em><em>has been ranked as the third most prevalent dental and oral health problem in Indonesia, with a prevalence rate reaching 80%. This condition can negatively affect dentofacial aesthetics and the psychosocial confidence of children. One of the contributing factors to malocclusion is bad oral habits, particularly mouth breathing. The role of parents is considered crucial in recognizing this habit, as adequate knowledge can support early prevention of malocclusion.</em></p> <p><em><strong>Objective: </strong></em><em>This study was conducted to determine the level of parental knowledge regarding mouth breathing as an etiology of malocclusion in elementary school children in Kuta Selatan.</em></p> <p><em><strong>Method:</strong></em><em> A quantitative descriptive method with a cross-sectional approach was used in this study. A total of 101 parents were selected as the sample, determined through the Yamane formula. Data were collected using a google form distributed to parents of students in grades 1 to 6 at SD Negeri 4 Jimbaran, SD Negeri 10 Jimbaran, and SD Negeri 12 Jimbaran. The data obtained were then analyzed univariately using SPSS. </em></p> <p><strong><em>Results:</em></strong> <em>Based on the results of the study, the majority of parents had a good level of knowledge regarding mouth breathing as an etiology of malocclusion, with 53 individuals (52.5%) categorized in the good knowledge category.</em></p> <p><em><strong>Conclusion: </strong></em><em>Based on the results of the study, the overall level of knowledge among respondents in South Kuta District regarding mouth breathing as an etiology of malocclusion was categorized as good. The majority of respondents were women aged 41–50 years, with a medium to high level of education, and worked as housewives who played an active role in childcare and had access to health information.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Latar Belakang</strong><strong>: </strong>Maloklusi menempati urutan ketiga sebagai permasalahan utama dalam kesehatan gigi dan mulut di Indonesia dengan tingkat prevalensi mencapai 80%. Kondisi ini dapat berdampak pada estetik dentofasial dan kepercayaan diri psikososial anak. Salah satu faktor penyebab maloklusi adalah <em>bad oral habit</em>, khususnya kebiasaan bernafas melalui mulut. Peran orang tua sangat penting dalam mengenali kebiasaan ini, karena tingkat pengetahuan yang baik dapat mendukung pencegahan dini terhadap maloklusi.</p> <p><strong>Tujuan: </strong>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan orang tua terhadap kebiasaan bernafas melalui mulut sebagai etiologi maloklusi pada anak sekolah dasar di Kuta Selatan.</p> <p><strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 101 orang tua yang diperoleh melalui perhitungan menggunakan rumus Yamane. Pengumpulan data dilakukan melalui <em>google form</em> yang dibagikan kepada orang tua siswa kelas 1–6 di SD Negeri 4 Jimbaran, SD Negeri 10 Jimbaran, dan SD Negeri 12 Jimbaran. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara univariat menggunakan SPSS.</p> <p><strong>Hasil: </strong>Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas orang tua memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai kebiasaan bernafas melalui mulut sebagai etiologi maloklusi yaitu sebanyak 53 orang (52,5%).</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa tingkat pengetahuan responden di Kecamatan Kuta Selatan mengenai kebiasaan bernafas melalui mulut sebagai etiologi maloklusi secara keseluruhan tergolong baik dengan mayoritas responden merupakan perempuan usia 41–50 tahun, berpendidikan menengah hingga tinggi, dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang berperan aktif dalam pengasuhan anak serta memiliki akses terhadap informasi kesehatan.</p> Zalzha Sinureta, Putu Ika Anggaraeni, Louise Cinthia Hutomo, Mia Ayustina Prasetya Copyright (c) 2026 Bali Dental Journal https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/588 Sun, 03 May 2026 00:00:00 +0700 Perbandingan Tingkat Kebocoran Mikro (Microleakage) pada Restorasi Kavitas Kelas II dengan Teknik Snowplow Antara Packable Composite Nanohybrid dan Bulk-Fill https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/732 <p><em><strong>Background:</strong> Microleakage is one of the main causes of restoration failure as it allows the penetration of bacteria and fluids into the interface between restorative material and tooth structure. The snowplow technique was developed to improve marginal adaptation by using an uncured flowable composite liner prior to placement of the main restorative material. Differences in restorative materials, such as packable nanohybrid and bulk-fill composites, may influence microleakage. </em></p> <p><em><strong>Methods:</strong> This study was a laboratory experimental study using a post-test only with two-group comparison design. A total of 32 extracted permanent premolars were divided into two groups: packable bulk-fill and packable nanohybrid (n=16 each). Restorations were performed using the snowplow technique, followed by incubation at 37°C for 24 hours, immersion in 0.2% methylene blue solution, longitudinal sectioning, and microscopic evaluation using a 0–4 scoring system. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk test and continue with Mann-Whitney test. </em></p> <p><em><strong>Results:</strong> The results showed that the packable bulk-fill group had a higher mean microleakage score compared to the packable nanohybrid group. Statistical analysis revealed a significant difference between the groups (p &lt; 0,05).</em></p> <p><em><strong>Conclusion:</strong> There is a significant difference in microleakage levels between packable bulk-fill and packable nanohybrid in class II cavity restorations using the snowplow technique. Packable nanohybrid demonstrated lower microleakage, indicating better marginal adaptation.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Kebocoran mikro (<em>microleakage</em>) merupakan salah satu penyebab utama kegagalan restorasi karena memungkinkan penetrasi bakteri dan cairan ke dalam celah antara bahan tumpatan dan struktur gigi. Teknik <em>snowplow</em> dikembangkan untuk meningkatkan adaptasi marginal dengan memanfaatkan <em>flowable composite</em> sebagai liner yang tidak dipolimerisasi sebelum aplikasi bahan utama. Perbedaan jenis bahan tumpatan restorasi, seperti <em>packable nanohybrid</em> dan <em>bulk-fill</em>, diduga memengaruhi tingkat kebocoran mikro.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium dengan desain <em>post-test only with two-group comparison</em>. Sebanyak 32 gigi premolar permanen dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok <em>packable bulk-fill</em> dan <em>packable nanohybrid</em> (masing-masing n=16). Restorasi dilakukan dengan teknik <em>snowplow</em>, kemudian sampel diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam, direndam dalam larutan <em>methylene blue</em> 0,2%, dipotong secara longitudinal, dan diamati menggunakan mikroskop dengan sistem skoring 0–4. Data dianalisis menggunakan uji <em>Shapiro-Wilk</em> dan dilanjutkan dengan uji <em>Mann-Whitney</em>. &nbsp;</p> <p><strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok <em>packable bulk-fill </em>memiliki rerata skor kebocoran mikro yang lebih tinggi dibandingkan kelompok <em>packable nanohybrid</em>. Uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (p &lt; 0,05). &nbsp;</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat perbedaan tingkat kebocoran mikro pada restorasi kavitas kelas II dengan teknik <em>snowplow</em> antara <em>packable bulk-fill </em>dan <em>packable nanohybrid</em>. <em>Packable nanohybrid</em> menunjukkan tingkat kebocoran mikro yang lebih rendah sehingga berpotensi memberikan adaptasi marginal yang lebih baik.</p> <p>&nbsp;</p> Adelia Zahra Phaloza, I Gusti Ayu Fienna Novianthi Sidiartha, Putu Mariati Kaman Dewi, I Gede Krisna Merta Yoga Copyright (c) 2026 Bali Dental Journal https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/732 Thu, 28 May 2026 00:00:00 +0700 Perbedaan Efektivitas Buah Apel (Mallus Sylvestris Mill.) dengan Buah Stroberi (Fragaria X Ananassa) Sebagai Bahan Pemutih Gigi https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/599 <p><strong><em>Introduction:</em></strong><em> Regular coffee consumption can cause tooth discoloration, even with consistent brushing and flossing habits. One commonly chosen treatment option for addressing tooth discoloration is bleaching. The use of natural ingredients to help whiten teeth has become increasingly popular. Apples and strawberries are examples of natural materials that can be used. Apples contain malic acid, which can whiten teeth by oxidizing the enamel surface. Strawberries contain ellagic acid and malic acid, which play a role in the enamel discoloration process. </em></p> <p><em><strong>Objective:</strong> The aim of this study is to determine the difference in effectiveness between apple (Malus sylvestris Mill.) and strawberry (Fragaria × ananassa) as natural tooth whitening agents. </em></p> <p><em><strong>Methods:</strong> This research is a laboratory experimental study designed using a pre-test post-test control group design involving 32 premolar tooth samples. The tooth samples were immersed in a coffee solution for 7 days to induce discoloration. Afterward, the samples were divided into two treatment groups: 16 samples were immersed in apple juice and 16 samples in strawberry juice. Color changes were observed using the VITAPAN Classical Shade Guide. </em></p> <p><em><strong>Results:</strong> The results of this study showed that both apple and strawberry juices were able to lighten the color of the teeth. </em></p> <p><em><strong>Conclusion:</strong> There was no significant difference between the groups of teeth immersed in apple juice and those immersed in strawberry juice.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Latar Belakang: </strong>Mengonsumsi kopi secara teratur dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi meskipun sudah rutin menyikat gigi dan <em>flossing</em>. Salah satu pilihan perawatan yang biasanya dipilih untuk menangani permasalahan perubahan warna gigi adalah <em>bleaching</em>. Penggunaan bahan alami untuk membantu memutihkan gigi kini semakin populer. Apel dan stroberi merupakan contoh bahan alami yang dapat digunakan. Apel mengandung asam malat yang dapat memutihkan gigi dengan cara mengoksidasi permukaan enamel. Stroberi mengandung asam elagat dan asam malat yang berperan dalam proses perubahan warna enamel.</p> <p><strong>Tujuan : </strong>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan efektivitas buah apel (<em>Mallus sylvestris mill</em>.) dengan buah stroberi (<em>Fragaria x ananassa</em>) sebagai bahan pemutih gigi.</p> <p><strong>Metode: </strong>Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium yang direncanakan dengan menggunakan desain penelitian <em>pre test-post test</em> dengan kelompok kontrol yang menggunakan 32 sampel gigi premolar. Sampel gigi tersebut direndam dalam larutan kopi selama 7 hari untuk melihat perubahan warna. Setelah itu, sampel dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu 16 sampel direndam dalam jus buah apel dan 16 sampel direndam dalam jus buah stroberi. Perubahan warna diamati menggunakan <em>VITAPAN shade guide classical</em>.</p> <p><strong>Hasil :</strong> Hasil dari penelitian ini adalah buah apel dan buah stroberi dapat mengubah warna gigi menjadi lebih cerah.</p> <p><strong>Simpulan :</strong> Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok gigi yang dilakukan perendaman dengan menggunakan buah apel dan buah stroberi.</p> Kukus Rachmania Hygi Kusumadewi, Putu Mariati Kaman Dewi, Putu Ratna Kusumadewi Giri, I Gusti Ayu Fienna Novianthi Sidhiarta Copyright (c) 2026 Bali Dental Journal https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/599 Thu, 28 May 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L.) terhadap Kekerasan Permukaan Resin Akrilik Heat-Cured https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/621 <p><strong><em>Introduction:</em></strong><em> Heat-cured acrylic resin has been widely utilized as a base material for denture fabrication. One of the indicators for assessing the durability of heat-cured acrylic resin is surface hardness testing. Maintaining the cleanliness of denture bases is an essential practice that must be consistently upheld. Denture cleaning is commonly performed by immersion in cleaning solutions. The utilization of herbal plants is required as an alternative method for cleaning denture bases. Soursop leaf extract (Annona muricata L.) has been reported to possess antibacterial properties and is potentially applicable as an alternative cleaning agent. </em></p> <p><em><strong>Objective:</strong> conducted to determine the effect of various concentrations of soursop leaf extract on the surface hardness of heat-cured acrylic resin after immersion.</em></p> <p><em><strong>Method:</strong> A post-test only with control group design was employed. A total of 28 heat-cured acrylic resin plates with a diameter of 30 mm and a thickness of 5 mm were prepared. The samples were divided into four groups: treatment with 60% soursop leaf extract, 80% soursop leaf extract, a negative control group (distilled water), and a positive control group (alkaline peroxide). Surface hardness was measured using a Vickers Hardness Tester. </em></p> <p><em><strong>Results:</strong> A significant difference was found among the treatment groups immersed in 60% and 80% soursop leaf extract, as indicated by the One-Way ANOVA analysis (P&lt;0.05). A higher average surface hardness was observed in the group immersed in 60% soursop leaf extract compared to the group immersed in 80% soursop leaf extract.</em></p> <p><em><strong>Conclusion:</strong> The concentration of soursop leaf extract that most closely approached the standard hardness value of 20 VHN and had the least impact on reducing the surface hardness was the 60% concentration, with a measured surface hardness of 19.39 VHN.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Pendahuluan:</strong> Resin akrilik <em>heat-cured</em> menjadi bahan yang banyak dimanfaatkan sebagai basis gigi tiruan. Salah satu indikator untuk mengukur ketahanan resin akrilik <em>heat-cured</em> sebagai basis gigi tiruan adalah dengan pengujian kekerasan permukaan. Menjaga kebersihan basis gigi tiruan merupakan upaya yang penting untuk dilakukan secara konsisten. Perawatan gigi tiruan umumnya dilakukan dengan perendaman dalam larutan pembersih. Pemanfaatan tanaman herbal diperlukan sebagai alternatif untuk membersihkan basis gigi tiruan. Ekstrak daun sirsak (<em>Annona muricata L</em>.) diketahui memiliki sifat antibakteri dan berpotensi sebagai bahan pembersih alternatif.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak daun sirsak pada perendaman resin akrilik <em>heat-cured</em> terhadap kekerasan permukaan.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain <em>post-test</em> <em>only with control group</em>. Sampel berupa plat resin akrilik <em>heat-cured</em> sebanyak 28 buah dengan diameter 30 mm dan tebal 5 mm. Sampel terbagi menjadi empat kelompok yakni kelompok ekstrak daun sirsak konsentrasi 60%, kelompok ekstrak daun sirsak konsentrasi 80%, kelompok kontrol negatif (akuades) dan kontrol positif (alkalin peroksida). Uji kekerasan permukaan dilakukan menggunakan alat <em>Vickers Hardness Tester</em>.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan ekstrak daun sirsak konsentrasi 60% dan 80% yang ditunjukkan oleh analisis <em>one way ANOVA</em> (P&lt;0,05). Nilai rata-rata kekerasan permukaan yang lebih tinggi terdapat pada kelompok ekstrak daun sirsak konsentrasi 60% dibandingkan dengan kelompok ekstrak daun sirsak konsentrasi 80%.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Konsentrasi ekstrak daun sirsak yang paling mendekati nilai standar kekerasan yakni 20 VHN dan memiliki pengaruh paling rendah terhadap penurunan tingkat kekerasan permukaan resin akrilik <em>heat-cured</em> adalah ekstrak daun sirsak konsentrasi 60% dengan nilai kekerasan permukaan sebesar 19,39 VHN</p> Made Dea Avrilia Kusumadewi, I Gusti Ayu Kade Ira Purbasari, Kadek Asri Asmita Pradnyana Putri, Riki Kristanto, Putri Marina Sukmadewi Copyright (c) 2026 Bali Dental Journal https://www.balidentaljournal.org/index.php/bdj/article/view/621 Tue, 02 Jun 2026 00:00:00 +0700